Protein Hewani Bermanfaat Untuk Mencegah Stunting Pada Balita
Dalam rangka Hari Gizi Nasional ke 63 Tahun 2023, dilaksanakan Gerakan Protein Hewani Cegah Stunting, dengan tema Cegah Stunting dengan Protein Hewani tentu sangat tepat untuk membantu pemerintah dalam upaya pencegahan stunting pada balita.
Namun sebelumnya apakah kita sudah memahami apa yang dimaksud dengan stunting?
Anak dikatakan stunting apabila tinggi atau panjang badan menurut umur berada di bawah -2SD (standar deviasi) median panjang atau tinggi badan anak seumurnya (WHO, 2015). Stunting merupakan ancaman terhadap kualitas SDM Indonesia, karena tidak hanya mengganggu pertumbuhan fisik tetapi juga mengganggu perkembangan otak.
Berdasarkan Hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting Kalteng mengalami penurunan dari 32,3% pada tahun 2019 menjadi 26,9% pada tahun 2022. Namun angka tersebut masih lebih tinggi dari angka nasional (21,6%), dan masih di atas ambang batas WHO (<20%), serta masih jauh dari target nasional 14% pada tahun 2024.
Masalah yang terjadi di Indonesia, adalah ternyata secara umum tidak terjadi perbaikan status gizi pada anak Indonesia dari tahun ke tahun (2018-2021). Angka stunting masih tinggi dan terjadi sejak sebelum lahir (sekitar 22% anak lahir dengan kondisi sudah stunted, akibat ibu hamil sejak masa remaja kurang gizi dan anemia) dan meningkat signifikan pada rentang usia 6-23 bulan (akibat kurang protein hewani pada makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang mulai diberikan sejak usia 6 bulan).
Kalau kita melihat beberapa hal terkait konsumsi protein di Indonesia dari data Susenas BPS 2022 yang diolah oleh Badan Pangan Nasional tahun 2022 yaitu sebagai berikut :
- Pada skor pola pangan harapan (PPH) tahun 2022 ternyata asupan makanan penduduk Indonesia sebanyak 50% terdiri dari padi-padian, 6% umbi-umbian, 12% pangan hewani, 10% minyak dan lemak, 3% buah/biji berminyak, 5% kacang-kacangan, 5% gula, 6% sayur & buah, serta 3% lain-lain.
- Komposisi konsumsi protein penduduk Indonesia selama tahun 2018-2022 lebih dari 60% berasal dari pangan sumber protein nabati, dimana komposisi konsumsi protein terbesar dari padi-padian 26,9 gram.
- Gambaran konsumsi protein pada tahun 2022, tertinggi terdapat di Provinsi NTB (74,8 gram/kap/hari) dan terendah terdapat di Provinsi Papua (45,1 gram/kap/hari). Sedangkan Kalimantan Tengah memiliki konsumsi 65 gram/kap/hari (urutan 8 tertinggi di Indonesia), dimana angka konsumsi protein di Indonesia adalah 62,2 gram/kap/hari).
- Dilihat dari konsumsi protein hewani, terjadi peningkatan konsumsi sebanyak 1,6% selama 5 tahun terakhir (2018-2022), terdapat peningkatan konsumsi ikan dari 20,7 kg/kap/tahun di 2018 menjadi 23 kg/kap/tahun di 2022, namun terdapat penurunan konsumsi daging ruminansia (sapi, kambing, domba, rusa dll) sebanyak 5,4% dan susu 3,5%.
Dari hasil penelitian gizi diketahui bahwa stunting pada anak usia dini berhubungan dengan rendahnya asupan makanan yang berasal dari protein hewani (susu, daging/ikan dan telur) (Headey et.al, Animal Sourced Foods and Child Stunting, Amer. J. Agr. Econ. 100(5): 1302–1319).
Protein hewani adalah salah satu zat gizi berupa protein yang berasal dari bahan makanan lauk hewani yang terdapat di sekitar kita, ada banyak sekali jenisnya, misalnya berbagai jenis ikan baik dari ikan laut, sungai maupun tempat lainnya (kakap, gurami, kembung, nila, patin, lele, haruan/gabus dll), belut, berbagai jenis telur (ayam, bebek, puyuh, angsa dll), ada hati, ayam, bebek, angsa, burung dan unggas lainnya, bisa berasal dari daging baik daging sapi, kambing, domba rusa, kerbau, babi dan lain sebagainya.
Konsumsi bahan makanan protein hewani sebagai tindakan pencegah stunting sangat tepat, karena protein hewani mengandung asam amino lengkap termasuk asam amino esensial, selain itu protein hewani mengandung mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan seperti seng (Zn) dan zat besi (Fe) serta mineral lain yang memiliki bioavailabilitas dan daya serap yang baik. Pada umumnya, protein hewani mengandung lemak, sehingga juga mengandung energi tinggi dibandingkan dengan bahan makanan lain. Sumber protein hewani yang kaya zat besi berasal dari daging sapi, ayam, hati dan telur; dan makanan bersumber hewani lainnya seperti ikan
Untuk wilayah Kalimantan Tengah pada khususnya sebenarnya banyak terdapat sumber lauk hewani, terutama ikan sungai, karena kita ketahui bahwa Kalimantan Tengah memiliki banyak wilayah sungai yang pastinya terdapat banyak sumber ikan yang berlimpah baik jenis dan jumlahnya. Selain adanya sumber lauk hewani lainnya baik berupa telur, unggas dan daging dll.
Sumber protein hewani yang berasal dari lauk hewani dapat disajikan sebagai menu makanan yang dapat diberikan kepada balita kita. Dimana menu adalah susunan makanan atau hidangan yang terdiri dari satu atau beberapa macam hidangan untuk seseorang atau sekelompok orang, pada waktu makan pagi, makan siang, makan malam atau makanan selingan. Dengan memperhatikan variasi menu dan penyajian berupa besar porsi, aroma, warna, bentuk makanan, temperatur dan cara penyajian.
Sekarang berapa banyak kebutuhan bahan makanan untuk balita kita agar dapat sehat dan mencegah terjadinya stunting pada balita. Dapat kita lihat di bawah ini :

Pemberian MP-ASI dilakukan berdasarkan jumlah energi yang dibutuhkan, konsistensi/tekstur, frekuensi dan jumlah makanan yang diberikan setiap kali makan sebagai berikut :

Memberikan makanan dengan menu yang tepat yaitu memperhatikan variasi menu dan penyajian berupa besar porsi, aroma, warna, bentuk makanan, temperatur dan cara penyajian akan mendukung balita kita memperoleh asupan makanan yang sesuai dengan kebutuhan serta mendukung tumbuh kembang balita, yang akhirnya dapat mencegah terjadinya stunting pada balita.
(Artikel : Banun Rohimah, S.Gz, M.Gizi, Infografis : Dit Promkes, Redaktur : PPID Dinkes)
Tinggalkan Balasan