Dinkes Kalteng Gelar Workshop Manajemen Program Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB) dan Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) Tingkat Prov.Kalteng
Palangka Raya – Dinas Kesehatan Prov Kalteng melalui Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) menggelar Workshop Manajemen Program Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB) Dan Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) Tingkat Provinsi, bertempat di Neo Hotel Palma, Senin (19/06/2023).
Kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang P2P dr. Riza Syahputra,M.AP mewakili Kepala Dinas Kesehatan Prov.Kalteng, dalam sambutan tertulis beliau mengatakan, Indonesia merupakan salah satu dari negara dengan beban TBC tertinggi di dunia tepatnya kembali menjadi yang ke 2 setelah India, hal ini dikarenakan peningkatan estimasi insiden TBC di Indonesia dari 824.000 di tahun 2021 menjadi 969.000 pada tahun 2022 dengan angka kematian 52 orang/ 100.000 penduduk, hal ini tidak lepas dari menurunnya penemuan kasus TBC pada masa pandemi 2020-2021 sehingga kasus yang terlambat ditemukan, diobati dan dilaporkan. Perlu waktu untuk menyebarkan kuman mycobacterium Tuberkulosis di Masyarakat, setelah pandemi tertangani, TBC merupakan prioritas penyakit menular untuk segera ditangani melalui komitmen Eliminasi TBC Indonesia tahun 2030, ucapnya.
“Melalui Perpres No. 67 tahun 2021 dinyatakan bahwa Penanggulangan TBC bukan hanya urusan sektor kesehatan, melainkan menjadi tanggung jawab kita bersama agar cita-cita eliminasi TBC 2030 dan Indonesia Bebas TBC 2050 dapat tercapai, oleh karena itu kita harus giat melakukan koordinasi dan kerjasama lintas sektor seperti yang tertuang dalam Perpres tersebut,”

Capaian indikator utama Program TBC di tingkat Nasional tahun 2022 seperti indikator penemuan dan pengobatan (Treatment Coverage) pada TBC sensitive obat (SO) maupun TBC resisten obat (RO) di angka 66%, sementara di Tahun 2023 Kemenkes RI menginstruksikan agar Treatment Coverage dapat mencapai target 90%, hal ini merupakan sebuah tantangan bagi kita semua untuk dapat berusaha lebih keras untuk mencapai target tersebut, imbuhnya.
Perlu diketahui, di Kalimantan Tengah sendiri pada Tahun 2022 estimasi kasus TBC meningkat cukup signifikan dari 9.368 pasien menjadi 10.689 pasien, dari estimasi tersebut kasus yang telah dilaporkan sebanyak 4.164 kasus TBC atau Treatment Coverage sebesar 39% jauh lebih baik dari tahun 2021 dimana hanya terlaporkan 2949 pasien dan TC 31% namun masih di bawah angka rata-rata Nasional yaitu Treatment Coverage 66%, capaian tertinggi ada di Kabupaten Murung Raya dengan Treatment Coverage sebesar 72%, sedangkan angka keberhasilan pengobatan (Succes Rate) Provinsi Kalimantan tengah tahun 2022 (pasien pengobatan 2021) sebesar 83% atau masih di bawah target Nasional yaitu 90%.
Selain Kasus TBC aktif, Indonesia memiliki beban Infeksi Laten TBC (ILTB) yang berpotensi menjadi TBC aktif dengan penurunan daya tahan tubuh dan dapat meningkatkan insidensi TBC secara keseluruhan. Beban kasus ILTB didunia pada tahun 2014 ada sekitar 1,7 milyar orang yang diperkirakan memiliki ILTB dan berisiko berkembang menjadi penyakit TBC aktif seumur hidup. dimana 35% diantaranya berasal dari wilayah Asia Tenggara, tambahnya.
Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) merupakan Program Pengendalian Tuberkulosis (P2TB) Nasional dalam penanganan kasus ILTB. Program ini sudah diperkenalkan sejak tahun 2016 sesuai dengan sasaran populasi yang tertuang dalam Permenkes nomor 67 tahun 2016 tentang Tuberkulosis. Namun, masih terbatas pada populasi anak kontak usia dibawah 5 tahun dan ODHIV.

Pada tahun 2020, Program pengendalian TBC Nasional yang tertuang dalam Strategi Nasional menjelaskan bahwa sasaran populasi tidak hanya anak kontak dibawah 5 tahun ODHIV, melainkan kontak serumah diatas 5 tahun dan kelompok risiko lainnya (WBP, pasien imunokompromais, petugas kesehatan, barak militer, sekolah berasrama, pengguna narkoba suntik dll). Pada tahun 2021, diharapkan program sudah berjalan sesuai dengan petunjuk teknis penanganan ILTB, tutupnya.
(Narasi : Gery, Foto : Tobi, Redaktur : PPID Dinkes)
Tinggalkan Balasan