Dinkes Kalteng Gelar Workshop Manajemen dan Analisis Data SKDR di Kalimantan Tengah

Dinkes Kalteng Gelar Workshop Manajemen dan Analisis Data SKDR di Kalimantan Tengah

Palangka Raya – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah (Prov Kalteng) gelar Workshop Manajemen dan Analisis Data SKDR bagi Kabupaten/kota se-Kalimantan Tengah, Selasa (06/05/2025).

Kegiatan dibuka oleh Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Sumarjaya melalui zoom, dalam arahannya mengatakan Surveilans kesehatan merupakan salah satu instrumen penting dalam mencegah KLB/wabah penyakit dan melakukan respons segera ketika kemungkinan KLB/wabah penyakit tersebut terjadi.

“Kegiatan surveilans dilakukan secara sistematis dan terus menerus (continue) yang dimulai dari tahap pemantauan, pengumpulan, pengolahan, analisa dan interpretasi data, sehingga menjadi sebuah informasi tentang situasi kecenderungan penyakit, dan faktor risiko serta masalah kesehatan masyarakat, sebagai bahan pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan,” ucapnya.

Kegiatan Workshop Manajemen dan Analisis Data SKDR

Surveilans kesehatan merupakan salah satu instrumen penting dalam mencegah KLB/wabah penyakit dan melakukan respons segera ketika kemungkinan KLB/wabah penyakit tersebut terjadi. Kegiatan surveilans dilakukan secara sistematis dan terus menerus (continue) yang dimulai dari tahap pemantauan, pengumpulan, pengolahan, analisa dan interpretasi data, sehingga menjadi sebuah informasi tentang situasi kecenderungan penyakit, dan faktor risiko serta masalah kesehatan masyarakat, sebagai
bahan pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan.

Dalam kesempatan lain, Kepala Dinas Kesehatan yang di wakili oleh Sekretaris Dinkes Prov Kalteng Rainer Danny P Mamahit menyampaikan selamat datang dan apresiasi yang setinggi – tingginya kepada seluruh narasumber, fasilitator, para peserta dan seluruh panitia penyelenggara yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk mengikuti kegiatan ini.

“Workshop ini memiliki peran strategis dalam memperkuat sistem surveilans kesehatan di Indonesia, khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan penyakit menular yang terus berkembang, baik secara lokal, nasional, maupun global,” tegasnya.

Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon yang biasa disingkat dengan SKDR merupakan salah satu pilar utama dalam sistem surveilans epidemiologi di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan bagaimana SKDR berkontribusi dalam identifikasi dini berbagai KLB, mulai dari COVID-19, Malaria, Suspek Dengue, Campak, Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR), hingga penyakit menular lainnya yang berpotensi KLB.

Di Kalimantan Tengah sebanyak dua belas kabupaten/kota telah mencapai tahap eliminasi. Dua kabupaten yang belum eliminasi adalah Kabupaten Kapuas dan Murung Raya, dimana dua kabupaten tersebut sudah dalam status endemisitas rendah namun karena masih dijumpai kasus penularan setempat (kasus indigenous) sehingga sampai dengan tahun 2025 ini belum bisa diajukan untuk dinilai eliminasi tingkat kabupaten. Perlu komitmen pemerintah daerah dan dukungan bersama dengan lintas sektor untuk percepatan eliminasi malaria di dua daerah tersebut, tutupnya.

Foto Bersama

Dalam rangkaian Peringatan Hari Malaria Sedunia (HMS) 25 April 2025, dengan Tema Nasional Aksi Bersama untuk Indonesia Bebas Malaria, maka saya mengharapkan semangat, kolaborasi, komunikasi dan memperkuat komitmen bersama antara petugas surveilans dan penyakit menular potensial KLB di semua lini mulai dari puskesmas, rumah sakit, hingga dinas kesehatan agar.

Turut hadir ketua tim kerja Surveilans dan Kewaspadaan dini Endah Kusumowardani, Perwakilan dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Perwakilan dari BBPK Ciloto, Perwakilan dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Universitas Gajah Mada, Perwakilan dari Risk Communication and Community Enggagement (RCCE) Indonesia, serta Pengelola Surveilans Se-Kalimantan Tengah.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *