Berita Utama

www.litbang.kemkes.go.id

Penggunaan Obat Tradisional untuk Terapi Covid-19

| Selasa, 03 November 2020 - 09:12:33 WIB | dibaca: 68 pembaca

“WHO telah mendorong inovasi di seluruh dunia untuk penggunaan obat-obatan tradisional dan pengembangan terapi baru untuk mencari potensi pengobatan Covid-19.”, demikian dikatakan Vivi Setiawaty, Kepala Pusat Litbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan saat membacakan sambutan Kepala Badan Litbangkes, dr. Slamet dalam Webinar Internasional Seri Ke-4 yang digelar Kamis 22 Oktober 2020. Topik webinar yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) tahun 2020 ini adalah Strategi Intervensi Untuk Terapi Covid-19.

dr. Slamet menyampaikan Badan Pengawas Obat dan Makanan sedang memantau 11 produk immunomodulator yang dianggap berpengaruh terhadap Covid-19 dan saat ini berada pada fase uji klinik. Diharapkan bahwa sistem kekebalan tubuh dapat ditingkatkan dengan pengobatan tradisional.

Pada kesempatan ini, Danang Ardiyanto, peneliti Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) mengungkap dengan memahami proses kekebalan tubuh, dapat diprediki fungsi immunomodulator dari herbal. Agen stimulator bisa menstimulasi atau memodulasi berbagai aspek dalam sistem tubuh baik yang adaptif maupun yang innate.

Menurut Danang, contoh immunomodulator dari bahan alami di Indonesia yang biasa digunakan telah diketahui melalui praktik yang secara turun temurun dan diwariskan setidaknya selama tiga generasi. “Hasil Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja) juga telah mencatat beberapa tanaman obat yang sering digunakan oleh suku-suku di Indonesia, serta obat-obatan herbal yang sudah diproduksi dan disebarkan di masyarakat yang sudah memperoleh ijin distribusi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM)”, tuturnya.

Lebih lanjut dijelaskan Danang, berdasarkan laporan Ristoja ada 391 formula jamu untuk kebugaran. Tumbuhan obat  yang bisa digunakan untuk kebugaran atau immunumodulator adalah kunyit (curcuma longa),  jambu biji, sirih (Piper Betel L),  jahe (Zingiber Officinale Roscoe), teh jawa atau kumis kucing (orthosiphan Aristatus (Bl.) Miq), sirsak (Annona Muricata L), papaya (Carica Papaya), rumput merah atau alang-alang (Imperata Cykindrica (L.) Raeusch) serta buah noni atau mengkudu (Morinda Citrifolia L.)

Webinar ini juga menghadirkan narasumber dari Thailand, Khwanchai Visithanon, Assistant Director-General of Departement of Traditional and Alternative Medicine, Ministry of Public Health Kerajaaan Thailand. Khwanchai berbagi pengalaman tentang  manajemen pengetahuan tentang pengobatan tradisional di Thailand. Menurut Khwanchai, manajemen pengetahuan ini  dilakukan kajian literatur dengan melihat tulisan-tulisan tua atau buku-buku teks kuno. Selanjutnya dilakukan autentikasi oleh panel yang terdiri dari para ahli serta melakukan wawancara dengan praktisi. Kemudian melakukan standardisasi untuk formula herbal sebagai intervensi yang memiliki kemungkinan untuk digunakan.

Khwanchai melanjutkan penjelasannya, tahapan berikutnya memulai dengan riset sesungguhnya dengan case report dan mencatat keamanan serta kejadian yang tidak diinginkan dari penggunaan obat herbal. Setelah itu uji klinik dengan metode uji klinik acak terkendali (Randomised Controlled Trial) dan penerapan reverse pharmacology(Fachrudin Ali Ahmad/Editor: Dian Widiati, Ully Adhie Mulyani)

Sumber : https://www.litbang.kemkes.go.id/










Komentar Via Website : 0