Berita Utama

Kesmas

Orientasi Kohort Bayi Dan Balita Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2020

| Jumat, 11 Desember 2020 - 14:30:10 WIB | dibaca: 368 pembaca

Palangka Raya - Indonesia menempatkan upaya penurunan angka kematian bayi dan angka kematian neonatal dalam prioritas sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 - 2024. Pada tahun 2024, target SDGs dalam upaya menurunkan kematian bayi dan neonatal adalah 16/1000 dan 11/1000 kelahiran hidup. Angka kematian bayi memperlihatkan disparitas antar provinsi yang besar. Dua per tiga kematian bayi merupakan kematian neonatal yang penurunannya lebih lambat daripada kematian bayi secara keseluruhan. Oleh karenanya upaya untuk menurunkan kematian neonatal merupakan kunci utama keberhasilan penurunan kematian bayi.

Dalam Sambutannya, Kepala Dinas Kesehatan Prov.Kalteng dr. Suyuti Syamsul, MPPM menambahkan, pelayanan kesehatan anak tidak dapat berdiri sendiri, tetapi memerlukan dukungan dari berbagai program terkait. Oleh karena itu, percepatan penurunan AKB dan AKBal memerlukan upaya yang terpadu dan berkesinambungan dalam peningkatan pelayanan KIA mulai dari tingkat pelayanan dasar dan rujukannya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui kegiatan sistem pencatatan/ pelaporan dan register kohor bayi dan anak balita. Sebagai bagian dari sistem  pencatatan/ pelaporan, register kohor bayi dan anak balita merupakan komponen pendukung yang penting dalam upaya memantau dan mengevaluasi pelayanan kesehatan anak, khususnya bayi dan balita serta sebagai masukan dalam melakukan perencanaan dan menentukan intervensi yang tepat terhadap data-data yang diperoleh dari hasil pelaksanaan kegiatan/ program kesehatan anak.

Indikator kesehatan anak seperti cakupan kunjungan neonatal, terutama cakupan pelayanan bayi, cakupan pelayanan anak balita, yang merupakan indikator komposit, hanya dapat dihitung cakupannya jika setiap anak mempunyai catatan seluruh pelayanan esensial yang didapatkan di dalam kohor. Namun, penerapan penggunaan kohor bayi dan kohor anak balita di puskesmas masih jauh dari yang diharapkan. Berbagai kendala yang ditemui antara lain adalah kurangnya ketersediaan blanko kohor, ketidaktahuan petugas kesehatan bahwa kohor merupakan alat pencatatan yang terintegrasi untuk pemantauan status kesehatan dan pelayanan kesehatan yang diterima oleh anak secara individual, kurangnya pemahaman definisi operasional masing-masing indikator, serta banyaknya inovasi membuat buku bantu yang sebetulnya tidak diperlukan lagi jika sudah dicatat di dalam kohor. Dan hal paling mendasar adalah belum adanya suatu petunjuk teknis pengisian kohor dan pemanfaatan data yang ada.

Pada tahun 2014, telah dilakukan revisi kohor yang menambahkan beberapa pencatatan seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK),  imunisasi HiB, Booster, Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK), pemeriksaan Early Infant Diagnosis (EID) bagi bayi dari ibu HIV positif, pengobatan profilaksis kotrimoksazol, pengobatan ARV, dan lain-lain. Selain itu, juga ada perubahan indikator RPJMN dan Renstra. Pada Tahun 2016, menyesuaikan kebutuhan program pencegahan penularan HIV, sifilis dan hepatitis B dari ibu ke anak, telah lakukan kembali revisi kohor dengan menambahkan pemeriksaan hepatitis B dan sifilis pada bayi dan anak.

Seiring dengan perubahan tersebut, perlu dilakukannya Orientasi cara pengisian dan pemanfaatan kohor bayi dan kohor anak balita dan prasekolah serta sosialisasi e kohort yang diharapkan dapat memberikan jawaban yang cerdas dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan di tingkat pelayanan kesehatan dasar dalam melakukan pencatatan dan menyiapkan pelaporan rutin secara berjenjang serta lebih memahami indikator program yang dilaporkan. Terkait dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan orientasi  kepada pengelola program kesehatan anak  dari 14 Kabupaten/ Kota.

 

Sumber : Bidang Kesmas










Komentar Via Website : 0